Ya tidak ada yang salah dengan judul diatas, menelurkan kata. Bertelur merupakan proses yang dilakukan oleh beberapa jenis makhluk hidup untuk dapat melakukan regenarasi atau dengan kata lain mempertahankan suatu keturunan. Sedangkan menelurkan kata menurut saya juga merupakan bentuk proses mempertahankan suatu pola pikir. Pernah saya mendengar suatu pribahasa, bahwa menulis itu bekerja untuk keabadian. Entah hanya pribahasa atau memang itu kenyataannya. Namun untuk sebagian orang, termasuk saya, menuangkan pikiran ke dalam tulisan cukup melelahkan. Katanya menulis itu bakat, sudah DNA, warisan nenek kakek yang dahulu penulis. Saya tidak bisa menulis dengan baik, itu tidak ada di DNA saya. Tapi apakah saya tidak dapat menulis? Tentu saja bisa, sudah berlembar-lembar saya menyelesaikan tulisan saya meskipun itu hanya sebuah laporan tugas atau hasil praktikum di lab semasa sekolah. Benar, itu bukanlah menulis seperti 'menulis' sesungguhnya. Proses menuangkan ide-ide brilian ke atas kertas bukan hal yang mudah. Katanya banyak membaca membuat kita pandai menulis, nyatanya pengaruh itu memang terasa, namun efeknya tidak se-spektakuler kalimat indah tersebut.
Jujur saya telah membuat beberapa blog semasa saya mengenal internet, saya pernah meriview game, membuat tutorial beberapa software hingga proses bagaimana cara melakukan cheat sederhana pada sebuah game. Hal itu belum memuaskan keinginan saya untuk dapat menulis dengan baik. Opini-opini juga pernah saya tuliskan di situs kompasiana sekedar ingin tahu atmosfer penulis di situs besar tersebut. Pengaruh baik, komentar-komentar yang masuk sempat membuat saya semakin bersemangat untuk terjun ke dunia tulis-menulis. Terlintas di pikiran saya untuk menjadi wartawan di kala itu, suatu mimpi yang mungkin tidak sesulit menjadi dokter bedah jantung atau astronot di bulan. Seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa menulis butuh ketelatenan, butuh kepekaan bahkan butuh kecerdasan tersendiri.
Tulisan yang menarik adalah tulisan yang mampu membuat pembaca tertarik, paling tidak sampai pembaca menyelesaikan karya kita, untuk membuat tulisan menarik otak harus bekerja dengan cara yang menarik pula. Entah kapan otak saya bisa bekerja semenarik otak Tere Liye bekerja, atau semenarik Andrea Hirata. Menginjakkan kaki di tingkat pendidikan yang lebih tinggi semakin membuka wawasan saya tentang dunia menulis, mulailah saya berkenalan dengan penulisan sainstifik seperti jurnal ilmiah, paper ilmiah dan hal berbau penelitian lainnya. Lagi-lagi ini tidak memuaskan keinginan saya untuk menulis, menelurkan kata. Saya bukan orang yang pintar mengarang, membuat kalian pembaca masuk dalam dunia yang di buat oleh murni akal dan pikiran saya sendiri hampir terasa tak mungkin. Akankah saya menyerah? Jawabannya tidak. Saya masih ingin menggali lebih dalam dan berlatih lebih sering untuk dapat menulis dengan baik. Maka dari itu saya Adib Muhammad Visoka berjanji pada diri saya sendiri bahwa saya tidak akan berhenti berkarya dan menulis, semoga Allah SWT mengizinkan saya menepati janji ini. Aamiin ya Rabbal Alamiin.
Surabaya, 26 November 2017
Penulis
Jujur saya telah membuat beberapa blog semasa saya mengenal internet, saya pernah meriview game, membuat tutorial beberapa software hingga proses bagaimana cara melakukan cheat sederhana pada sebuah game. Hal itu belum memuaskan keinginan saya untuk dapat menulis dengan baik. Opini-opini juga pernah saya tuliskan di situs kompasiana sekedar ingin tahu atmosfer penulis di situs besar tersebut. Pengaruh baik, komentar-komentar yang masuk sempat membuat saya semakin bersemangat untuk terjun ke dunia tulis-menulis. Terlintas di pikiran saya untuk menjadi wartawan di kala itu, suatu mimpi yang mungkin tidak sesulit menjadi dokter bedah jantung atau astronot di bulan. Seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa menulis butuh ketelatenan, butuh kepekaan bahkan butuh kecerdasan tersendiri.
Tulisan yang menarik adalah tulisan yang mampu membuat pembaca tertarik, paling tidak sampai pembaca menyelesaikan karya kita, untuk membuat tulisan menarik otak harus bekerja dengan cara yang menarik pula. Entah kapan otak saya bisa bekerja semenarik otak Tere Liye bekerja, atau semenarik Andrea Hirata. Menginjakkan kaki di tingkat pendidikan yang lebih tinggi semakin membuka wawasan saya tentang dunia menulis, mulailah saya berkenalan dengan penulisan sainstifik seperti jurnal ilmiah, paper ilmiah dan hal berbau penelitian lainnya. Lagi-lagi ini tidak memuaskan keinginan saya untuk menulis, menelurkan kata. Saya bukan orang yang pintar mengarang, membuat kalian pembaca masuk dalam dunia yang di buat oleh murni akal dan pikiran saya sendiri hampir terasa tak mungkin. Akankah saya menyerah? Jawabannya tidak. Saya masih ingin menggali lebih dalam dan berlatih lebih sering untuk dapat menulis dengan baik. Maka dari itu saya Adib Muhammad Visoka berjanji pada diri saya sendiri bahwa saya tidak akan berhenti berkarya dan menulis, semoga Allah SWT mengizinkan saya menepati janji ini. Aamiin ya Rabbal Alamiin.
Surabaya, 26 November 2017
Penulis
Tidak ada komentar:
Posting Komentar